(Bagian Ke 4)
Kajian Kitab Jawahirul Adab
Oleh Mustamsikin
Di antara adab guru ketika bersama murid pada kajian kitab Jawahirul Adab yang telah lalu adalah meninggalkan sifat sombong. Kecuali rasa sombong yang ditujukan untuk meyombongi orang sombong. Selanjutnya untuk melengkapi adab guru bersama murid pada kajian ini akan dibahas mengenai pentingnya rasa ikhlas bagi seorang guru.
Rasa ikhlas teramat penting ada pada guru. Lebih-lebih ketika ia mengajar, maka ikhlas harus menjadi pijakan dalam mengajar atau mendidik. Ikhlas yang dimaksud di sini adalah memurnika niat dalam mendidik dengan hanya berharap ridha Alla Swt. Rasa ikhlas seorang guru selayaknya tercermin baik ketika ia sendiri maupun saat bersama orang lain. Mengenai hal ini Syekh Ibnu Mukhtar menyatakan,
إخلاصه سرا كذا اعلانا # قبوله الحق ولو من ادنى
"Ikhlasya guru baik ketika sendiri maupun dalam keramaian, serta menerimanya guru atas kebenaran termasuk yang datang dari orang yang lebih rendah."
Dari syair di atas dapat dipahami bahwa seorang guru hendaknya ikhlas baik ketika sendiri maupun ketika bersama orang lain. Untuk ikhlas dalam mendidik seseorang dapat menggunakan kaca mata ikhlas dari Gus Baha. Gus Baha menerangkan bahwa ikhlas itu mudah dengan cara padang ilmu hakikat. Caranya dengan menihilkan rasa aku dan menggantinya dengan kata Allah.
Adapun ilustrasnya misalnya guru meyakini dalam hantinya, sesungguhnya ini adalah ilmu Allah, ini adalah kepandaian dari Allah, kesehatan ini diberikan oleh Allah, dengan keyakinan tersebut seseorang akan lebih mudah ikhlas. Mengapa demikian? Sebab sejatinya kita tidak memiliki apa-apa. Jika yang diajarkan oleh guru bukan miliknya semata namun milik Allah niscaya seseorang tadi akan ikhlas. "Wong memberikan sesuatu yang bukan miliknya kok tidak ihklash itu kan aneh."
Selanjutnya pada syair di atas juga disinggung mengenai guru harus menerima segala kebenaran termasuk dari orang yang lebih rendah baik usia, ilmu maupun hal-hal yang lain. Dalam hal ini guru harus legowo. Menenerima segala kebaikan dari manapun datangnya.
Dalam pandangan penulis menanamkan rasa menerima kebenaran dari semua pihak termasuk anak kecil ditanamkan kepada setiap guru. Mengapa demikian? Sebab sudah tidak sedikit guru yang menutup ruang diskusi. Sehingga ia hanya mau menerima kebenaran dari orang yang sepadan atau lebih atas darinya. Sedang yang demikian ini adalah musibah bagi guru.
Demikianlah kajian malam ini. Semoga ulasan di atas memberkan manfaat bagi pembaca. Utamanya adalah para guru.
Wallahu A'lam Bisshawab
Kediri, 31-01-2022.
Sumber gambar: m merdeka.com