MUSTAMSIKIN

Tafsir Al-Hasan Al-Bashriy

Saturday, August 8, 2020

Hidup Tanpa Aksara

Hidup Tanpa Aksara
Oleh Mustamsikin
Lama sudah tidak menulis. Bahkan tidak juga membaca. Itulah saat ini yang penulis alami. Tidak ada satu artikelpun yang nayang dalam blog, facebook, maupun grup wa yang penulis posting. 

Suasana hidup yang tidak menentu membuat semua ide menukis mandek. Tidak ada suplemen pendorong untuk menulis kembali dengan serius. Ternyata inilah kehidupan yang tidak menentu sehingga pengaruhnya turut menyasar spirit menulis. Daya dorong menulis yang lenyap begitu saja. 

Friday, August 7, 2020

Hidup Tanpa Aksara

Hidup Tanpa Aksara
Oleh Mustamsikin
Lama sudah tidak menulis. Bahkan tidak juga membaca. Itulah saat ini yang penulis alami. Tidak ada satu artikelpun yang nayang dalam blog, facebook, maupun grup wa yang penulis posting. 

Suasana hidup yang tidak menentu membuat semua ide menukis mandek. Tidak ada suplemen pendorong untuk menulis kembali dengan serius. Ternyata inilah kehidupan yang tidak menentu sehingga pengaruhnya turut menyasar spirit menulis. Daya dorong menulis yang lenyap begitu saja. 

Thursday, June 25, 2020

Membincang Pandangan Umar Terhadap Sebuah Cobaan

Membincang Pandangan Umar Terhadap Sebuah Cobaan
Nashaihul Ibad Bab Ruba'iy
Oleh Mustamsikin

Umar bin Khatab adalah sosok khalifah kedua Islam pasca Rasul Saw., yang dikenal dengan sikap tegasnya. Di samping tegas, Umar memiliki konsistensi dan keberanian yang luar biasa dalam memperjuangkan Islam. Ia sosok pemberani yang konon hingga beliau berhadapan dengan malaikat di alam barzakh pun masih dengan sosok beraninya.

Sosok Umar memang memiliki banyak keistimewaan, tentu selain sifat-sifat yang telah penulis sebutkan di atas masih ada sisi Umar yang patut diteladani. Di antara keteladanan itu, ketika Umar bin Khatab memandang sebuah cobaan.

Cobaan atau ujian yang menimpanya tidak lepas dari kuasa Allah atas ujian itu. Allah senantiasa menaungi dalam setiap cobaan yang menimpa Umar. Lebih dari itu, Umar dalam ujian yang ia terima menuturkan ada empat nikmat yang membekas dalam ingatannya.

Nikmat yang pertama, cobaan yang diterima Umar tidak menimpa agamanya. Menurut Umar ini adalah satu nikmat yang luar biasa. Meski berupa ujian asal ujian itu tidak menimpa keyakinan atau yang bertalian dengan sisi agama seseorang maka masih dapat dikatakan dalam level aman. 

Mengapa demikian, Syekh Nawawi turut mendukung hal ini. Menurutnya, ujian yang menimpa agama seseorang atau keyakinan seseorang lebih berat dari ujian fisik maupun harta. Fisik boleh sakit, harta boleh habis namun itu tidak seberapa. Namun kalau iman yang goyah bahkan pudar maka sulit untuk dikembalikan tanpa disertai dengan hidayah-Nya. 

Nikmat dalam cobaan yang kedua menurut Umar, ujian itu tidak lebih besar dari ujian yang menimpa Umar. Maksudnya ujian yang dimaksud tidak melampaui  kapasitas kemampuan yang ditimpainya. Barangkali ujian ini tidak akan melampaui kemampuan yanh menerima ujian. Karena kadar kemampuan seorang hamba dalam menerima ujian telah disesuaikan oleh Allah. 

Nikmat ketiga dalam cobaan menurut Umar adalah tidak menutup pintu kerelaan dalam bersabar menerima cobaan itu. Nikmat dalam ujian ini jika dipikir memang sangat besar. Bagaimana seseorang mampu mengelola kesabaran saat menjalani cobaan, lebih tinggi nilainya daripada cobaan yang ia terima. Di sisi lain memang kesabaran adalah kunci menghadapi cobaan.

Terakhir dalam cobaan ada nikmat besar menurut Umar. Nikmat apa itu? Pahala yang besar. Besarnya cobaan yang diterima maka sebesar atau bahkan berlipat besarnya pahala yang akan didapatkan. 

Demikianlah beberapa sisi kistimewaan sosok Umar ketika memandang sebuah cobaan atau ujian. Semoga dengan mengetahui sisi-sisi Umar yang seperti ini kita dapat memetik ilmu. Paling tidak ilmu dalam menyikapi sebuah cobaan.

Wallahu A'lam Bisshawab

Wednesday, June 24, 2020

Sebab Nabi Dipanggil Tuan

Sebab Nabi Dipanggil Tuan
Nashaihul Ibad Bab Ruba'iy
Oleh Mustamsikin

Dalam sebuah penjelasan tentang firman Allah,"Wasayyidan Wahasuran Wanabiyyan minasshalihin" Syekh Muhammad bin Ahmad menuturkan maksud ayat tersebut dengan memberi penjelasan kenapa nabi disebut dengan istilah sayyidan? Syekh Muhammad meyebutkan bahwa Allah menyebut Nabi Yahya As., dengan sebutan sayyidan (tuan) padahal ia adalah hamba-Nya Allah. Hal ini sebab empat hal yang dimiliki oleh Nabi Yahya As--dan para  nabi yang lain. 

Pertama, Nabi Yahya As., dapat mampu menaklukkan hawa nafsu. Bagi seorang nabi atau rasul penting sekali memiliki kemampuan mengalahkan nafsunya sendiri demi eksistensinya sebagai utusan Allah. Dengan mengalahkan hawa nafsu para nabi dapat senantiasa menerima dan menyampaikan wahyu yanh ia terima murni bimbingan dari Allah. Bukan campur tangan nafsunya sendiri. Pun juga ketika ia membenci atau mengasihi umatnya.

Kedua, Nabi Yahya As., dapat menundukkan iblis. Sebagai nabi tentu mengalahkan iblis adalah satu hal penting yang harus dilakukan. Dengan mengalahkan iblis, para nabi atau rasul dapat secara leluasa menyampaikan ajaran yang ia bawa kepada umatnya. Belum lagi memang tugas iblis adalah menjerumuskan serta menghalang-halangi dakwa para nabi dan rasul. 

Ketiga, Nabi Yahya As., dapat menjaga lisannya. Perkara lisan agar tidak sembarangan berucap sangat penting bagi nabi atau rasul. Sebab pada mereka melekat sebutan nabi atau rasul yang lisannya tidak lain hanya berucap hal-hal yang suci. Perbincangan mereka juga bertalian dengan dakwah, bimbingan dan menunjukkan jalan keselamatan kepada umatnya.

Keempat, Nabi Yahya As., mampu meredam _ghadab_ (marah). Marah merupakan satu hal penting yang harus dihindari oleh nabi atau rasul. Sebab kemarahan mereka mendatangkan murka Allah. Sekali mereka marah pada umat, maka Allah tak segan untuk menurunkan bencana yang mampu membinasakan.  

Demikianlah alasan mengapa nabi disebut sebagai tuan oleh Allah meskipun jelas mereka adalah hamba-Nya. Semata-mata kerena mereka mampu mengendalikan paling tidak empat hal di atas. Mampu mengendalikan nafsu, mengalahkan iblis, megendalikan lisan dan meredam amarah.

Jika nabi saja oleh Allah yang berstatus hamba memperoleh sebutan tuan dengan kemampuan mereka atas empat hal di atas, maka kita semua pun  dapat meniru prilaku para nabi. Dengan meniru prilaku nabi, besar potensinya untuk memperoleh kedudukan yang luhur di sisi Allah. Setidaknya sebagai hamba-Nya yang saleh.

Wallahu A'lam Bisshawab.

Tegaknya Agama dan Dunia

Pondasi Tegaknya Agama dan Dunia
Nashaihul Ibad Bab Ruba'iy
Oleh Mustamsikin

Siapa yang tidak mengenan Imam Ali bin Abi Thalib. Sosok yang cerdas, berwibawa, kesatria nan pemberani yang pilih tanding. Kecerdasannya sangat diakui bahkan oleh Nabi Saw., semdiri. Ia merupakan pintu gerbang ilmu pengetahuan yang kotanya adalah Nabi Saw.

Termasuk bagian penting ketika memperbincangkan Ali bin Abi Thalib adalah kecerdasan dalam bernasehat. Nasehat yang dimaksud dalam kajian kitab Nashaihul Ibad kali ini, berhubungan dengan pondasi tetap kokohnya agama dan dunia. Apa saja pondasi yang mampu meneguhkan tetap tegaknya agama dan dunia? Ali mengatakan, "Agama dan dunia tidak akan runtuh selama kokoh empat hal berikut."

Pertama, agama dunia tetap kokoh berdiri selama orang kaya tidak bakhil atas apa yang diberikan Allah kepadanya. Peryataan ini dipahami oleh Syekh Nawawi dengan penjelasan bahwa orang kaya yang tetap mau memberi orang yang meminta dan tidak menahan harta yang wajib ia keluarkan. 

Tiang pancang pertama pondasi agar agama dan dunia ini tetap kokoh di atas menggambarkan bagaimana pentingnya kedermawaan orang kaya. Kesadaran bahwa dalam kekayaannya ada jasa dan hak orang yang lemah dan membutuhkan. Maka sudah sepantasnya bila sebagian kekayaannya disalurkan kepada yang berhak dan tidak menahan harta yang sewajibnya ia keluarkan zakatnya.

Kedua, agama dan dunia tetap kokoh, selagi ulama beramal sesuai ilmunya. Ulama yang berprilaku, memerintah dan melarang sesuai dengan pengetahuannya. Ulama yang seperti inilah yang masuk dalam kriteria al-Ulama' al-Amilin.Mereka  berprilaku sesuai dengan ilmu yang mereka miliki.

Sosok kriteria yang seperti inilah yang pantas disebut dengan ulama. Tidak asal-asalan mengaku ulama. Apalagi baru belajar Islam, mengetahui hadis satu dan dua kemudian berfatwa tanpa ilmu. Yang demikian ini bukan ulama selain itu dapat sesat dan menyesatkan.

Ketiga, agama dan dunia tetap tegak selagi orang bodoh tidak sombong atas apa yang tidak ia ketahui. Selagi orang yang bodoh mau belajar dan tidak menyombongkan ketidaktahuannya maka agama dan dunia akan tetap kokoh. Lain halnya jika orang-orang kategori ini sudah tidak mampu ditambah tidak mau--belajar--masih saja belagu.

Syekh Nawawi memahami bahwa sepantasnya orang bodoh tidak abai atas ketidak tahuannya dan tidak henti-hentinya belajar atas apa yang tidak mereka ketahuai. Dengan demikian maka mereka akan selamat dan menyelamatkan banyak orang. Penulis memandang orang-orang seperti ini cukup banyak jumlahnya, bahkan tidak jarang mereka memamerkan ketidaktahuan mereka diberbagai media yang dapat merobohkan agama dan dunia.

Keempat, agama dan dunia tetap kokoh selagi orang-orang fakir tidak menukar akhirat mereka dengan perkara dunia. Jika orang-oranh fakir konsisten atas keyakinan mereka bahwa akhirat lebih kekal, tidak memperjual belikan keyakinan atas agama mereka dengan harta duniawi maka agama dan dunia akan tetap kokoh berdiri. Setidaknya agama atau keyakinan mereka akan tetap kokoh.

Tentang yang keempat ini, penulis memandang bahwa penting memperhatikan orang-orang fakir. Utamanya bagi para aghniya' yang dengan kecukupan hartanya seharusnya memberi bantuan kepada fakir dan miskin. Begitu juga orang-orang kategori ini harus beranjak dengan semangat untuk terbebas dari kefakiran. Berusaha dengan sekuat tenaga merubah nasib untuk lebih baik. Dengan tujuan mengjauhi kekafiran sebagaimana sabda Nabi Saw., "Dekat sekali kefakiran dengan kekafiran."

Demikianlah empat hal yang menjadi pondasi tetap tegaknya agama dan dunia. Semoga keemlat hal di atas masih dapat kita lihat di lingkungan sekitar kita. Sehingga agama dan dunia tetap tegak. Amin.

Wallahu A'lam Bisshawab

Saturday, June 20, 2020

Ketika Seorang Hamba Berdosa

Ketika Seorang Hamba Berdosa
Nashaihul Ibad Bab Ruba'iy
Oleh Mustamsikin

"Ketika seorang hamba berdosa maka Allah akan memberinya empat anugrah...,"
Sa'd bin Hilal

Betapa baiknya Allah, terhadap apa yang tidak kita minta Ia senantiasa memberi. Kita tidak meminta oksigen dalam setiap hela nafas kita, pun juga dalam doa-doa kita, namun Allah senantiasa memberi. Kita tidak meminta air secara terus menerus, namun Allah pancarkan air dari mata air dan Ia turunkan dari langit berupa hujan. Begitupula dengan panas sinar mata hari yang senantiasa kita butuhkan setiap hari untuk berbagai keperluan. Begitu baiknya Allah kepada semua hamba-Nya. Baik udara, air, sinar mata hari akan senantiasa Allah berikan kepada semua. Tidak hanya pada hamba-Nya yang taat, namun juga pada hamba-Nya yang bermaksiat pun demikian.

Tida cukup itu, sekali pun hamba-Nya berdosa Allah tetap memberi banyak hal. Bahkan, Sa'd bin Hilal menjelaskan betapa anugrah Allah tetap ia berikan kepada hamba-Nya, sekalipun si hamba tadi melakukan dosa. Sa'd bin Hilal mengatakan, "Ketika seorang hamba berdosa, Allah akan memberikan empat anugrah kepadanya. Pertama, Allah tidak menghalangi rizkinya. Kedua, tidak mencegah kesehatan hamba tersebut. Ketiga, Allah tidak memperlihatkan dosa hamba tersebut. Keempat, Allah tidak segera menghukumnya dalam waktu dekat." 

Dari perkataan Sa'd bin Hilal di atas jelas bahwasannya sekali pun hamba-Nya berdosa Allah masih memberinya anugrah. Hamba tersebut tidak dihalangi rizkinya. Meski hamba terus melakukan dosa pada-Nya namun rizkinya tetap Allah berikan. Inilah anugrah Allah yang sangat nampak pada hamba-Nya.

Begitu juga ketika hamba-Nya berosa ia tidak lantas dicabut kesehatannya. Ia masih memberi nikmat kepada hamba-Nya tadi berupa kesehatan. Sehingga dengan kesehatan tersebut si hamba tadi dapat berpikir jernih agar bertaubat dari dosanya.

Selanjutnya Allah juga masih menyembunyikan dosa yang dilakukan hamba-Nya. Bahkan Allah benar-benar menutup rapat dosa, kesalahan dan aib hamba-Nya selagi si hamba tadi tidak memamerkan dosa yang ia pernah lakukan. Tertutupnya dosa merupakan anugrah yang sangat nyata, utamanya bagi umat Nabi Muhammad Saw.

Selain dosa yang masih Allah sembunyikan, Allah menambahkan anugrah satu hal yang amat berharga bagi si hamba pendosa tadi. Anugrah apa itu? Allah masih menunda hukuman dosa hamba tadi sampai waktunya tiba. Artinya, Allah masih memberi kesempatan untuk bertaubat. Masih adanya kesempatan bertaubat bagi pelaku dosa merupakan kekhususan yang diberikan oleh Allah kepada umat Muhammad SAW. Lain dengan umat-umat terdahulu yang sekali ingkar akan dibinasakan secara langsung.

Tentang dosa yang tidak segera ditimpakan azabnya ini, Syaikh Nawawi menambahkan dalam penjelasan yang bertalian dengan ungkapan Sa'd bin Hilal di atas dengan cerita Nabi Adam As., yang menjelaskan tentang keistimewaan umat Nabi Saw. yang tidak Allah berikan kepadanya--Nabi Adam As.

Nabi Adam As, mengatakan, "Allah memberi empat kemuliaan pada umat Muhammad yang tidak Ia berikan kepadaku. Pertama, Allah menerima taubatku--Nabi Adam As--di Makah, sedang umat Muhammad dapat bertaubat di mana saja dan diterima taubat mereka. Kedua, ketika aku berdosa pakaianku langsung terlepas sedang umat Muhammad berosa dalam keadaan telanjang Allah kemudian mengenakan pakaian kepada mereka. Ketiga, ketika aku berodosa Allah memisahkan aku dengan istriku sedang ketika umat Muhammad  bedosa Allah tidak memisahkan mereka dengan pasangan mereka. Keempat, ketika aku berdosa aku dikeluarkan oleh Allah dari surga, sedang ketika umat Muhammad berdosa di luar surga Allah memasukkan mereka ke dalam surga setelah mereka bertaubat."

Demikianlah anugrah Allah yang amat besar. Sekalipun hamba-Nya berdosa Allah masih meberikan banyak hal kepada hamba tadi. Lebih-lebih kepada umat Nabi Muhammad Saw. yang sangat istimewa--semoga kita termasuk diakui Nabi Saw., sebagai umatnya.

Semoga yang demikian dapat kita rasakan. Kendati tidak harus melakukan dosa, jika kita terpeleset melakukan dosa  Allah mengampuni dosa-dosa kita dan masih memberi anugrah-Nya kepada kita. Amin.

Wallahu A'lam Bisshawab

Friday, June 19, 2020

Cara Memperoleh Surga

Cara Memperoleh Surga
Nashaihul Ibad Bab Ruba'iy
Oleh Mustamsikin

"Barang siapa mengoptimalkan empat hal maka ia akan memperoleh surga."
Hatim al-Asham

Banyak cara untuk kelak pantas menjadi penghuni surga. Hampir segala jalan kebaikan jika konsisten dikerjakan dapat dijadikan sarana memperoleh kebahagiaan di surga. Istana yang sangat mewah di alam keabadian. Istana yang sangat didambakan oleh orang-orang yang beriman.

Surga dapat diperoleh dengan berbagai jenis kebaikan sebagai tiket masuknya. Termasuk di antaranya yang disampaikan oleh kekasih Allah yang bernama Hatim al-Asham. Hatim mengatakan, "Siapa yang mengoptimalkan empat hal berikut akan memperoleh surga." Apa saja empat hal itu?.

Pertama, meninggalkan tidur hingga kubur. Syekh Nawawi memahami maksud ungkapan ini dengan seseorang meninggalkan nikmatnya tidur--di dunia sekarang ini. Ia sibuk dengan bersungguh-sungguh untuk memperoleh kenikmatan tidur di alam kubur kelak dengan berbagai amal saleh. Mempersiapan segala amal baik yang dapat menjadi bekal di alam kubur. Sehingga yang ada di kuburnya kelak berupa kenikmatan.

Kedua, meninggalkan kesombongan hingga mizan. Maksudnya seseorang tidak lagi menuturkan berbagai hal bentuk kesombongan. Melainkan ia dengan sungguh-sungguh memperbanyak amal kebajikan untuk memperberat neraca kebaikannya di hari ditimbangnya amal di akhirat nanti. Semakin ia sadar bahwa kesombongan tidak berarti dan merugikan sekaligus bergegas meninggalkannya maka seseorang tadi akan bertambah kebajikannya.

Ketiga, berbahagia hingga sampai _shirath._ Maknanya seseorang meninggalkan kesenangan jasmani untuk semakin gigih mengerjakan amal-amal saleh untuk kelak dapat menjadi sarana memperingan diri melintasi shirath atau jembatan di akhirat nantinya. Kian sungguh seseorang konsentrasi dan konsisten melakukan kebaikan maka ringan kemudian ia melintasi shirath.  

Keempat, meninggalkan syahwat hingga sampai surga. Syekh Nawawi menjelaskan bahwa penting bagi seseorang untuk mengendalikan keinginannya. Megekang nafsunya, untuk kemudian diarahkan untuk mengerjakan berbagai ibadah. Sehingga ibadah-ibadah yang dilakukan dapat ditukar nantinya dengan surga.

Meninggalkan syahwat merupakan bagian dari syarat menjadi penghuni surga. Sebab di surga dikelilingi berbagai hal yang tidak disukai oleh syahwat. Dibenci pula oleh nafsu.

Demkianlah beberapa hal yang dapat dioptimalkan sebagai cara memperoleh surga. Dengan banyak bermujahadah dalam maknannya sedikit tidur, kelak dapat menjadi bekal menikmati tidur di surga. Dengan meninggalkan kesombongan terhadap sesama dengan disertai konsentrasi mengrjakan kenajikan akan memperberat neraca kebaikan kelak di akhirat. Dengan meninggalkan kesenangan duniawai yang dibarengi dengan mengerjakan amal baik dapat mempermudah seseorang melintasi shirath. Dengan meninggalakan syahwat akan memperoleh kenikmatan di surga.

Wallahu A'lam Bisshawab